5 x 2 = 10

Posted: November 21, 2012 in Uncategorized

Tulisan ini ditulis persis beberapa saat setelah gue berhasil (untuk ketiga kalinya) tamat baca Buku 5 CM. Jadi ya harap maklum aja kalo tulisan ini agak nyerempet kesitu, ya secara ya tulisan ini aja lahir berkat buku itu gitu lho. Tulisan ini juga bentuknya bakal beda sama tulisan gue yang biasanya. Sekarang gue cuma beneran pengen ngobrol aja, gausah terikat sama bahasa – bahasa yang terlalu nge-plot runtut banget kayak cerita-cerita yang selama ini gue bikin, meskipun baru dua yang berhasil gue tamatin sih, satu di publish di blog terus satunya cuma berakhir di buku tulis aja. Manual. Pokonya pengennya tulisan ini bentuknya freestyle. Buat kalian yang mau protes? boleh aja tapi ya protesnya abis baca tulisan ini aja, jangan baru setengah jalan baca tulisan ini kalian udah protes engga jelas ya? kan namanya juga nulis freestyle… nulis suka-suka gitu. Hehe…

Sekarang tepat jam 00:05 malam. Kira-kira 10 menitan yang lalu gue baru aja selesai baca buku (sekali lagi untuk ketiga kalinya) judulnya 5 CM. Kalian juga udah baca kan? gue yakin sih sebagian udah ada yang baca, kalo belum nanti tanggal 5 desember (kalau enggak salah) filmnya main di bioskop. Jadi, buat yang enggak suka baca, tonton aja filmnya dijamin enggak rugi bayar 20 ribu ke bioskop!

Kalian bingung kenapa gue kok tiba – tiba pengen bahas 5 CM? Gue juga sebenernya engga tahu kenapa sih, pokonya begitu selesai baca buku itu tiba-tiba keinginan untuk nulis kuat banget kayak ada yang nyuruh dan harus dikerjakan sekarang juga. Nah akhirnya, berpegang kepada apa yang dibilang sama William Forester (yang gue kutip dari buku 5 CM) “Kalau kamu mau menulis ya tulis aja, jangan pernah mikir. Langsung menulis aja jangan pake mikir” jadilah gue menuliskan hal ini. Biarlah sedikit absurd, toh memang ini tulisan freestyle! (lagi)

Oke, menurut gue buku yang bagus itu adalah buku yang bisa membuat pembacanya mabuk. Kenapa kok mabuk? Iya mabuk, kita dibuat mabuk sama tokoh – tokohnya… sama ceritanya… sama settingnya… sama konfliknya… sampai-sampai kita enggak rela buat ngelepas buku itu dari tangan kita saking mabuknya. Boleh percaya boleh engga, tergantung selera juga sih… Tapi menurut gue, 5 CM itu masuk ke jajaran buku bagus tersebut! Kenapa? Soalnya gue merasakan apa yang gue sebut diatas barusan. Gue terpana banget sama buku itu. As a Whole. Completely. Keseluruhan aspeknya bikin gue melongo sekaligus takjub, ketawa sekaligus nangis, cekikikan sekaligus terharu. Kaya banget kan emosi gue? Iya! Kaya banget! Itu Cuma gara-gara satu buku yang judulnya 5 CM aja loh!. Buat tambahan aja sih, gue emang suka agak sedikit too expressive menunjukkan kekaguman gue sama satu karya tulis yang gue anggap bagus, mungkin sebagian orang nganggep ini tulisan lebay? Engga apa – apa kan ini emang tulisan freestyle! (tuh kan gitu lagi).

Gue kasih sinopsis singkat versi gue ya, jadi 5 CM itu ceritanya tentang 5 Sahabat yang beda-beda karakter tapi semuanya saling menyayangi dan menghargai, saling mengisi dan menimpali, saling ngolok satu sama lain (ngoloknya penuh cinta tentu saja), saling menerima apa adanya, pokonya kalau disingkat jadi satu kata itu KLOP. Mereka menyebut diri mereka sebagai Power Rangers. Alasannya sederhana aja, itu karena member power ranger juga biasanya cuma lima. Perlu dikenalin siapa aja? Boleh deh buat yang belum baca : Arial si Bugar yang taat aturan, Genta “The Leader”, Riani si Cerdas yang kadang kocak padahal lagi serius, Zafran si Penyair yang punya side-job jadi vokalis band, dan Ian si Ngocol yang sekaligus juga selalu jadi bahan becandaan member Power Ranger yang lain. Mereka kemana-mana bareng, nongkrong bareng, curhat bareng, seneng bareng, susah bareng…. Indah ya? Iya. Menurut gue itu indah. Tapi, suatu hari mereka ngerasa stuck dihubungan mereka. Jenuh sama rutinitas ngumpul yang gitu – gitu aja engga ada perkembangan. Nah, jadi Genta, si Leader, ngusulin sesuatu yang unik : Jangan Ketemuan dulu 3 Bulan. No SMS dan telepon. Semuanya setuju, dengan sebuah janji : Tiga bulan lagi kita ketemu, kita akan melakukan hal yang belum pernah kita lakukan sama-sama sebelumnya. Tahu mereka ngelakuin apa? Pendakian ke Puncak Mahameru! Nah disini banyak juga kejadian seru, tapi udah ah sinopsisnya segini aja. Buat bagian yang seru sih kalian baca sendiri aja! Atau nanti aja tunggu filmnya di bioskop! Hahaha… (namanya juga sinopsis singkat).

Pesan yang pengen disampein Bang Donny (penulis 5 CM) ke pembacanya menurut gue sih jelas banget: Jangan menyerah sama mimpi kalian. Kejar terus. Yakin kalau kalian bisa, dan dibarengi sama usaha yang bener- bener udah mencapai batasnya, niscaya enggak ada yang mustahil. Ini juga sudah dibuktikan oleh Genta dkk ketika perjalanan mereka mendaki puncak Gunung Mahameru. Kalau mereka bisa, kenapa gue engga? kenapa kalian engga?

Ngomong- ngomong soal 5 CM yang tema besarnya adalah persahabatan 5 anak manusia yang lagi sama – sama menggapai mimpi, gue juga engga mau kalah!  Hahaha… Iya, gue engga mau kalah… Karena sekarang, saat ini, detik ini, gue juga lagi berjuang menggapai mimpi bareng sahabat-sahabat gue.

Kami bersepuluh. 6 laki-laki dan 4 perempuan. Memakai jas almamater yang sama: Univeritas Jenderal Soedirman. Tentu saja kami berlainan, tapi kami menuju ke satu jalan: Jalan Kesuksesan. Iya sih jalannya pasti nanti beda – beda. Ada yang lurus tapi banyak kerikilnya, ada yang bergelombang,  ada yang belok kanan-kiri dulu, pokoknya engga ada yang 100% mulus… Tapi, kami punya satu keyakinan yang sama, punya garis finish yang sama, keinginan yang sama… Keinginan yang kami yakin bukan kami saja yang memilikinya…. Kalian juga.

Boleh percaya boleh enggak, sahabat-sahabat gue ini (tadinya) juga menamakan diri mereka Rangers. Alasannya juga sama kok, itu karena mereka berlima, terus juga suka membela kebenaran dan menumpas kejahatan (oke engga segitunya), bahkan dulu gue juga sempet menyandang predikat sebagai monster sebelum diakui. (yang ini serius!). Tapi, karena seiring bertambahnya personel dan berjalannya waktu, kami merubahnya supaya lebih sesuai dengan zaman: Anak-anak Terpilih. Keren ya? hehehe…  Pasti mikirnya nama itu penuh dengan filosofi-filosofi luar biasa deh? Enggak kok! Sejarahnya enggak sehebat itu… Nama Anak-Anak Terpilih simply dipilih karena profile picture group facebook kami itu Digimon, dan akhirnya tercetuslah nama itu. Kalau masih penasaran sama makna yang tersembunyi dari “Anak-Anak Terpilih” kalian bisa tanyakan sama sahabat-sahabat gue ini, karena gue yakin kami punya definisi masing-masing tentang itu.

Kami emang enggak sesempurna katakter yang digambarkan Bang Donny di bukunya, tapi kami selalu mencoba memberi warna di dalam dunia yang kami ciptakan sama-sama. Kami juga enggak seperti kalian yang mungkin selalu menghabiskan waktu bersama, tapi kami akan selalu mengingat setiap momen yang kami lalui saat itu. Kami percaya kalau apa yang kami lalui saat ini, adalah hal yang akan sangat kami rindukan di masa yang akan datang. Gue yakin bukan kami aja yang merasakan ini, kalian juga kan?

Sama seperti Genta, Riani, Zafran, Ian, dan Arial…. Kami, saat ini juga sedang mendaki Gunung Mahameru kami sendiri. Kami sedang berjuang mencapai puncak. Puncak menjadi seorang sarjana dan melepas status Mahasiswa. Tapi, tentu saja perjuangan kami belum selesai sampai disitu. Masih ada puncak gunung-gunung lain yang kami tuju. Kalian juga kan? Hehe…

Jadi agak sedikit mellow ya? Enggak apa-apa… Kita memiliki emosi yang kaya jadi enggak masalah kalau mellow sedikit. Genta cs itu berlima. Lima itu Pancasila. Bhinekka Tunggal Ika. Kami bersepuluh. Sepuluh itu simbol kesempurnaan. Tapi kami tahu, di dunia ini engga ada yang sempurna, jadi kami mencoba membuat kesempurnaan kami sendiri. Yang penting saling mengisi dan mengasihi. Buat kami itu sudah “sepuluh”. Sempurna….

Buat sahabat-sahabat gue yang enggak gue tulis namanya disini… Kalian tahu kalian siapa… Bahkan tanpa nama kalian tahu… ini kita… gue… dan kalian….

 

                                                                        Purwokerto, 21 November, 2012  3:46 WIB

Kapas

Posted: January 26, 2012 in Poetry

 

Selembar kapas terapung di bengawan renjana

Berteriak – teriak dalam beriak

Meggema melewati karang berpendar – pendar

Berceloteh dengan samudra durjana

Kapas tak suka berlayar tanpa kawan

Kapas tak mau mengalir tak berteman

Kapas tak bisa hidup sendirian

Langit merah muda kapas gulana

Meratap ingin kembali pada awan

Bermain bersama senja kelana

Sampai ufuk kembali dalam pelukan

Summer Tears

Posted: January 26, 2012 in Romance Fiction

 

Matahari sore sebentar lagi akan tenggelam. Langit di ufuk barat berwarna oranye, bercampur dengan biru yang semakin pekat.
Seorang gadis sedang berbaring di pantai, dengan sahabat laki-lakinya di sebelah kirinya. Menghirup sebanyak-banyaknya aroma laut. Di bawah mereka, pasir putih tampak berkilau karna tertimpa cahaya matahari sore, terasa dingin dan lembut. Mata mereka memandang puluhan camar yang berbondong-bondong pulang kerumah dengan nyanyian mereka.
“Aku akan kembali seperti mereka.”
Gadis itu menoleh ke arah sahabatnya. Yang di perhatikan masih memandang camar-camar yang terbang menjauhi mereka.
“Berapa lama?”
Sahabat si gadis ikut menoleh, memandang si gadis sekilas, lalu mengalihkan pandangannya. “Aku tak tahu..mungkin 3 tahun.”
“Apa kau akan kembali?”
“Tentu saja, kalau kau menungguku.”
Si gadis terenyum, “Hmm…Baiklah…”

_-_-_-_-_-_-_-_-_

Aku terkejut. Sedang apa anak perempuan itu sendiarian di pantai? Kemana orang tuanya? Apa dia tersesat? Dia tidak tahu jalan pulang? Atau…
Itulah pikiran pertama yang muncul ketika aku pertama kali melihat Eun Hye… Sahabatku. Adikku. Hidupku. Seluruh hidupku.
Entah kenapa melihat dia berbaring seperti itu mengusik perasaanku.
Kenapa dia?
Karena rasa penasaranku yang begitu besar aku mendekatinya. Kebetulan waktu itu aku sedang bersepeda. Rutinitasku setiap sore hari.
Dia melihatku. Matanya bulat. Coklat susu. Sama seperti rambutku. Dia tersenyum… manis sekali… senyum terindah yang pernah kulihat. Kupikir, umurnya mungkin sekitar 10 tahun. Menurutku, untuk ukuran anak umur 10 tahun dia cantik sekali.
“Hai Kak…boleh kah aku meminjam sepeda itu?”
Dia menyapaku. Itulah pertama kali aku mendengar suaranya. Suaranya seperti… denting-denting lonceng gereja. Merdu sekali.
“Kau bisa mengendarainya?” tanyaku.
Aku kembali menatap matanya. Matanya bagai magnet untukku. Aku ingin selalu menatapnya.
“Kakak bisa mengajariku?”
Dia kembali tersenyum.
Ugh! Mana mungkin aku bisa menolak? Caranya meminta… senyumnya… asal aku bisa melihat matanya aku akan melakukan apa saja.
Aku mengangguk. Dia tersenyum lagi.
Aku mengajarinya dengan sabar. Aku khawatir karena dia beberapa kali terjatuh. Untung saat itu pasirnya basah. Jadi dia tidak menangis. Setelah beberapa kali mencoba akhirnya dia bisa mengendarai sepedanya tanpa bantuanku. Sempurna.
“Kau pintar sekali… aku saja butuh waktu seminggu untuk belajar sepeda.” Aku berteriak setengah khawatir. Takut kalau tiba-tiba dia terjatuh lagi.
“Tentu saja.” Balasnya
Aku menunggunya kembali. Kulihat dia berputar-putar mengelilingi pantai. Tak lama kemudian dia mendekatiku. Duduk di sampingku.
Matanya tertuju pada matahari yang sebentar lagi akan tenggelam. Aku bisa melihat ada kilatan kagum dimatanya.
“Kau selalu melihat matahari terbenam ya?” tanyaku. Aku rasa dia bisa mendengar nada penasaranku dengan jelas.
Aku mengutuk diriku sendiri dalam hati.
“Yah…aku selalu menantikannya..”
“Oh ya, siapa namamu?”
“Eun Hye. Kau? Eh, kakak?”
Lagi-lagi aku merutuki diri sendiri. Aku menyesali tubuhku yang terlalu tinggi untuk usiaku saat itu. 15 tahun. Aku tak suka dipanggil kakak.
“Panggil saja Yu Jin. Tak perlu dengan kakak”
Sejak saat itu aku terikat padanya. Aku menjaganya. Bersikap seperti kakak lelaki yang baik untuknya. Menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya. Aku ingin selamanya seperti ini (berpura-pura menjadi kakaknya paling tidak) meskipun itu akan menyakitiku aku tak peduli. Yang penting dia ada disisiku. Selamanya.
Di sela-sela waktu kami bersama, kami suka bercerita, cerita apa saja : Kehidupan sekolah, ayahnya yang galak, nilainya yang jelek. Dia memang suka bercerita. Cerewet mungkin lebih tepatnya. Tapi itulah Eun Hye. Aku menyayangi Eun Hye yang seperti ini.
Pernah satu kali aku bertanya padanya
“Impianmu apa, Eun Hye?”
“Impian itu apa?”
Aku tertawa dalam hati. Dasar Eun Hye… kau polos sekali.
Aku meliriknya dengan gemas. Ingin aku mengacak-acak rambutnya saat itu juga. Tapi nyatanya aku malah menampakkan wajah seperti orang yang berpikir keras.
“Sesuatu yang ingin kau capai, tujuan hidup, alasan hidup.”
“Ah, aku tetap tak mengerti” ujarnya.
Saat itu aku tertawa. Keras sekali. Wajahnya sangat lucu. Menggemaskan. Tawa yang sedari tadi kutahan tak bisa terbendung lagi.
“Memang impian Yu Jin apa?”
Aku bisa mendengar ada nada jengkel didalamnya.
Aku terdiam. Setiap orang menanyakan impianku hatiku sakit. Pikiranku sekejap tenggelam dalam memori kelam.
Meskipun waktu itu umurku masih 3 tahun… kenangan itu itu melekat di otakku… seperti sudah menjadi jaringan yang tak bisa dipisahkan dari tubuhku. Kematian Ayah.
“Aku ingin jadi dokter.”
Eun Hye terlihat terkejut mendengar jawabanku.
“Kenapa dokter?”
Sudah kuduga Eun Hye pasti akan banyak bertanya. Tapi kenapa mempertanyakan hal ini lebih dulu? Aku memutuskan tidak ada salahnya aku bercerita padanya. Dia sama pentingnya dengan ayah sekarang ini.
“Karena ayah.”
“Ayah meninggal karena kanker usus besar waktu aku masih kecil. Sejak saat itu aku bertekad akan menjadi dokter yang hebat! Agar aku bisa menolong orang-orang agar tak bernasib seperti ayahku.”
Suaraku sedikit bergetar. Tak mudah bagiku menceritakan hal ini pada orang lain. Aku sangat menyayangi ayah. Tapi toh Eun hye juga memiliki tempat yang sama dengan ayah dihatiku. Meskipun ia tak tahu hal yang satu itu.
Kutatap mata coklatnya. Aneh… dia tidak berkomentar apapun. Biasanya kan dia cerewet sekali… tapi aku mengabaikannya mungkin dia juga sedang memikirkan sesuatu yang tak mau ia katakan padaku.
Tak lama setelah itu tuhan mendengar doaku. Langkah menuju impianku semakin dekat. Aku mendapatkan beasiswa sekolah kedokteran di Seoul.
_-_-_-_-_-_-_-_-_

Tiga tahun yang kujanjikan padanya di pantai dulu sudah berlalu… sangat lama berlalu. Aku sudah berhasil menggapai impianku menjadi dokter. Aku ditempatkan di sebuah rumah sakit terkenal. Tapi, bukan di Seoul. Bahkan sebelumnya, karena prestasiku yang gemilang aku dikirim ke luar negeri untuk lebih mendalami ilmu kedokteran.
Hingga saat ini, aku belum bisa melupakan Eun Hye. Matanya yang bulat… senyumnya… tawanya… wajahnya…
Diri Eun Hye seakan sudah menjadi candu bagiku. Tak bisa melihatnya berarti siksaan untukku. Dan itu berlangsung setiap hari. Terpisah darinya membuatku gila.
Malam-malam tahun pertama kuliahku kuhabiskan untuk memimpikan dirinya (berharap memimpikannya sebetulnya), itu bisa membuatku tenang (meskipun sedikit). Setidaknya aku bisa bertemu dengannya. Dan aku bisa merasakan dia ada di dekatku. Bersamaku.
Kadang-kadang ketika aku terbangun di pagi hari kurasakan dia membelai wajahku lalu tersenyum. Namun, ketika aku akan menggenggam tangannya sosoknya semakin kabur perlahan menghilang. Tak terlihat sama sekali. Ketika aku menyadarinya aku mengerang. Berteriak hebat. Aku merasa aku benar-benar gila.
Eun Hye… aku ingin melihatmu…

_-_-_-_-_-_-_-_-_

Yoon Eun Hye. Dia keras kepala. Juga cerewet. Sudah berkali-kali aku bilang aku tak suka dipanggil kakak. Tapi dia tetap saja kukuh dengan pendiriannya itu. Pernah satu kali aku berkata
“Aku lebih suka kalau Eun Hye menganggapku sebagai sahabat, bukan kakak.”
Tentu saja waktu itu juga dia tidak mendengar perkataanku. Dia tetap dengan pendiriannya. Aku mengalah. Aku tak mau dia menjauhiku karena ini. Aku akan menuruti apapun yang dia mau selama aku mampu melakukannya.
Kenanganku akan dia yang tak akan pernah aku lupakan adalah ketika aku belajar bersamanya. Sebenarnya hanya dia yang belajar, aku hanya tutornya saja. Waktu itu, tiba-tiba dia merengek kepadaku minta diajari matematika. Nilai-nilai ulangannya jeblok sekali. Ayahnya marah-marah sepeti biasa. Wajahnya terlihat sangat takut sekali waktu itu. Aku tersenyum dan berjanji akan membantunya.
“Pelajari sampai halaman ini! Jangan ada yang terlewat!” kataku sambil menyodorkan buku milkku padanya.
“Aku tak mengerti!” erangnya.
Aku tersenyum dalam hati. Dasar Eun Hye… kau memang menggemaskan…
“Kau ini malas sekali…Mana catatanmu?”
“Kemarin pulpenku habis…jadi..”
“Alasan!!”
Dengan sekejap aku menuliskan rumus-rumus tadi (yang sudah kumodifikasi supaya mudah) untuknya. Menandai mereka dengan kotak-kotak lucu ( kupikir anak perempuan suka itu jadi kugambar saja)
“Nih, mungkin bisa membantumu.”
Eun Hye terkejut melihat apa yang kulakukan pada bukunya.
“Yu Jin… kau pintar sekali…”
Tentu saja wajahku memerah. Tapi kusembunyikan itu darinya.
“Kalau begitu, sekarang coba kerjakan soal ini!” ucapku. Seketika wajahnya berubah cemberut.
“Ini salah! Harusnya pakai rumus yang ini! Ayo coba sekal lagi!” bentakku pura-pura galak. Ternyata asyik juga menjahili Eun Hye seperti ini.
“Ini! Sudah ketemu jawabannya!”
Mataku sudah berat sekali. Suaranya waktu itu terdengar seperti sayup-sayup bagiku. Namun aku masih bisa menyadari ada suara orang mengerak-gerakkan sesuatu.
Sedang apa Eun Hye?
Tiba-tiba…
CUP!
Tubuhku mengejang seketika. Aku hanya bisa berdoa semoga Eun Hye tak menyadari perubahan wajahku. Dia menciumku! Astaga! Andai saja dia bisa mendengar degup jantungku sekarang pasti dia tertawa.
Tak lama setelah itu kurasakan jemarinya menyentuh-nyentuh wajahku…. kening… tulang hidung… bibir.. dan akhirnya berhenti di daguku. Wajahku semakin panas. Tapi kukendalikan diriku. Kubiarkan mataku terpejam. Mungkin istilah memaksanya untuk tetap terpejam lebih tepat. Aku berdoa dalam hati semoga aku bisa melewati ini semua…

_-_-_-_-_-_-_-_-_

“Yu Jin hyung… dokter kepala memanggilmu. Ada masalah penting yang harus dibicarakan katanya… kau disuruh ke ruangannya sekarang.”
Kudengar seseorang memanggilku.
Oh… hanya Kang Ta ternyata… kupikir…
Pikiran akan Eun Hye seketika memenuhi otakku.
“Kang Ta, kenapa kau membawa baling-baling begitu banyak? Untuk apa?” tanyaku.
Melihat baling-baling mengingatkaknku pada Eun Hye. Gadis baling-balingku.
“Oh ini… ini mainan untuk anak-anak yang dirawat disini. Kau lupa aku dokter anak? Ini bukan pertama kalinya kau melihatku membawa mainan bukan? Kenapa kau terkejut begitu” tanyanya curiga.
“Oh… tidak, tidak apa-apa. Aku hanya kaget melihatmu membawa baling-baling sebanyak ini” dsustaku.
Setiap aku melihat baling-baling diamanapun, aku pasti ingat pada Eun Hye. Aku jadi teringat aku pernah memberinya sebuah baling-baling.
“Eun Hye ini untukmu.”
“Apa ini?” katanya acuh. Jujur, saat itu aku sedikit kecewa mendengar reaksinya.
“Baling-baling, mau tidak?” ada nada kecewa dalam suaraku.
“Bagaimana cara memainkannya?”
Aku meniup baling-baling itu. Membiarkannya berputar.
“Kau bisa berlari dan baling-baling itu akan berputar.”
“Oh ya?” akhirnya aku mendengar secercah semangat dalam suaranya.
Seketika itu juga aku bahagia.
Kemudian aku menyuruh Eun Hye berdiri. Kugenggam tangannya. Rasanya aku tak ingin melepasnya. Aku berharap semoga waktu berhenti sekejap saja agar aku bisa mengenang perasaan ini lebih lama. Kami berlari-lari kecil mengelilingi pantai. Kutatap baling-balingku. Ia berputar begitu juga dengan baling-baling Eun Hye, berputar denga ceria. Kami terus berlari sampai kelelahan.
“Yu Jin… kesini sebentar nak,,, ibu membutuhkan bantuanmu”
Ibu? Ada apa ia memanggilku?
“Eun Hye tunggu sebentar ya… jangan kemana-mana, aku akan kembali… aku harus pulang dulu. Ibu membutuhkan bantuanku.”
Dia tersenyum. Lalu kulihat dia berlari-lari kecil dengan baling-balingnya. Dia terlihat senang sekali. Tanpa rasa khawatir sedikitpun kutinggalkan ia sendirian pulang ke rumah.
Betapa terkejutnya aku melihat dia menangis saat aku kembali. Hatiku sakit. Takut bercampur khawatir aku menghampirinya. Siapa tahu dia menangis karena dia mengira aku meninggalkannya sendirian.
“Eun Hye, kau menangis?”
”Yu Jin… Baling-balingku…”
Isakan tangisnya mengiris perasaaan ku. Ini pertama kalinya aku melihat dia menangis. Aku tak ingin melihatnya menangis.
Tak apa-apa… nanti ku buatkan lagi.” jawabku menenangkannya.
Aku tak mau melihat dia meneteskan airmata lagi lalu kuusap airmatanya dengan bahu tanganku yang basah karena keringat.
“Ehh… Yu Jin bisa buat baling-baling?” sontak tangisnya berhenti dan aku bersyukur karenanya.
“Ya…” kusinggungkan senyum penghiburanku untuknya.
“ajari aku ya…”
“Jangan… nanti hari-jarimu tergores bambu”
“Tapi…”
Dasar Eun Hye keras kepala. Kupotong dia sebelum dia menyelesaikan kalimatnya.
“Biar aku saja. Aku akan selalu membuatkan baling-baling untukmu.” janjiku.
Dan aku akan melakukan apapun untukmu
Tambahku dalam hati.
“Yee….” Dia tertawa.
“Dasar gadis baling-baling”
“Gadis baling-baling?”
Wajahnya lucu sekali ketika dia bertanya seperti itu. Kentara sekali dia kebingungan. Aku suka ekspresinya yang seperti itu.
“Hahahahaha…” tawaku tak bisa ditahan lagi
Mengingat hal itu membuat hatiku berteriak
Eun Hye aku ingin bertemu lagi denganmu… tertawa bersamamu… mengenggam tanganmu… berlari bersamamu… aku rindu padamu…

_-_-_-_-_-_-_-_-_

Ternyata dokter kepala mengirimku ke Seoul. Ada pertemuan seluruh wakil rumah sakit se-Korea disana. Entah kenapa aku yang dia pilih menjadi wakil rumah sakit ini. Padahal aku masih terhitung baru bekerja disini. Mungkin dokter kepala percaya padaku. Aku tak boleh mengecewakannya.
Aku berangkat ke Seoul malam itu juga. Kupacu mobilku. Aku tipe orang yang tak suka keheningan, jadi kunyalakan saja radio mobilku.
“Malam semua, kembali bersama saya Eun Hye… masih di acara curhat yah…. Oke, dari tadi suara cewek terus yang menelpon.”
Suara penyiar itu mengalun di mobilku. Suaranya merdu sekali. Aku merasa tak asing dengan suaranya. Tunggu! Siapa namanya tadi? Eun Hye?

Refleks kuhentikan moibilku saat itu juga. Aku harus berbicara padanya. Aku INGIN berbicara dengannya. Kurogoh handphoneku.
“Sial! Kenapa handphoneku harus mati disaat begini?”
Aku tak mau melewatkan kesempatan ini. Aku berlari… diseberang jalan didekat Seoul Tower kulihat ada sebuah telepon umum.
“Ah itu dia.. terimakasih Tuhan”
Saking terburu-burunya langkahku, aku sampai tak memperhatikan jalan. Aku terus berlari. Namun, sepertinya takdir tak berpihak padaku…

_-_-_-_-_-_-_-_-_

Secara teknis, ya aku tertabrak. Tapi ajaibnya aku tak merasakan apapun. Bahkan sakitpun tidak. Hanya satu yang kupikirkan saat itu, aku harus mengutarakan perasaanku pada Eun Hye. Mungkin Tuhan mendengar niatku? Aku tak tahu.
Dengan tergesa-gesa kumasuki box telepon umum itu dan kutekan nomor telepon yang sudah berkali-kali Eun Hye katakan sejak tadi.
“Halo…” kataku.
“Yak…dengan siapa?”
Darahku berdesir mendengar suaranya
“Dengan…Yu Jin.” Jawabku. Hatiku berkecamuk. Apa dia masih ingat padaku?
“Punya cerita apa malam ini?” suaranya biasa saja. Apa mungkin dia sudah lupa padaku?
“Halo.. apa kau masih disana?” katanya
Ah masa bodohlah! Yang penting aku harus mengatakan perasaanku padanya… semoga dia menyadarinya.
“Hmm… Dulu aku mencintai seorang gadis… sahabat kecilku…” kuputuskan akan kuceritakan semuanya dari awal.
“Kami tumbuh bersama dari kecil hingga remaja. Saat itu aku belum menyadari kalau aku menyukainya. Aku… hanya ingin menjaganya, hanya ingin di sisinya… hingga suatu saat aku merasakan getar-getar cinta padanya.” Aku berbohong sedikit. Sebenarnya aku sudah menyukainya sejak pertama kali melihatnya di panta dulu. Tapi biarlah itu menjadi rahasiaku saja.
“Aku baru sadar aku menyukainya saat ada seorang teman kelasnya yang mengutarakan cinta padanya. Saat itu aku marah… aku merasa milikku di rebut… aku mau.. aku mau dia hanya untukku… dia milikku…”
Aku benar-benar jujur kali ini (kecuali soal pertama kali aku menyukainya tentu saja).
Aku melanjutkan ceritaku buru-buru. Tahu karena waktuku tak banyak.
“Hingga suatu saat aku dapat beasiswa ke Seoul. Aku janji pada gadis itu akan pulang setelah 3 tahun… Tapi ternyata aku tidak bisa pulang. Aku perlu waktu yang lebih untuk menggapai cita-citaku. Dan dia memberiku waktu 3 tahun.”
“La…lalu?”
“Aku janji dengannya bertemu di Seoul Tower malam ini. Dia selalu ingin kesana.”
Tak ada jawaban. Belum sadarkah ia kalau ini aku?
“Tapi sepertinya dia marah karena aku tidak menepati janjiku sebelumnya. Mungkin, dia sudah bersama pria lain.”
“Kata siapa? Mungkin dia masih menunggumu kan?” suranya terdengar bergetar sekarang. Apa dia mulai menyadarinya? Kucoba sekali lagi.
“Sudah terlambat… dia juga tidak mencintaiku.”
Dan kali ini suaranya benar-benar bergetar. Aku yakin dia sudah menyadari bahwa ini aku.
“Tahu dari mana kau tentang hatinya? Kenapa kau tak menanyakan langsung padanya?”
“Aku pernah menanyakannya… tapi dia tidak menyadarinya. Dan dia menganggap itu lelucon.”
“Dia selalu menganggapku kakak… sahabatnya… tapi ternyata aku inginkan lebih.”
Aku mendengarnya terisak. Kutahan airmataku agar tak keluar. Aku harus berpura-pura tegar setidaknya sampai saatnya tiba.
“Yah… mungkin dia memang lupa. Tapi aku berharap, dia tidak membuang kenangan kita… semoga dia baik-baik saja..Yang pasti aku menyayanginya. Aku rindu padanya.”
Tiba-tiba sambungan telponnya terputus. Aku tak tahu kenapa. Tapi aku lega, tak pernah aku merasa seringan ini. Tak tersa pipiku basah. Airmataku tak terbendung lagi.
Tiba-tiba aku melihat dua sosok pria berbaju hitam mendekatiku.
“Sudah waktunya”
“Waktu apa?” aku terkejut.
“Waktumu sudah habis.”
“Tunggu dulu… ada apa ini? Apa aku sudah?…”
Kakiku lemas. Aku tak sanggup meneruskan maksud perkataanku.
“Cepat…”
Suara mereka begitu dingin. Aku tak berani melihat wajahnya.
“Tunggu sebentar. masih ada yang harus aku lakukan. Kumohon… beri aku waktu sebentar saja. Kumohon…”
Aku berlutut. Aku tak mau membuang kesempatan ini. Sudah sejak lam aku ingin melihat Eun Hye. Aku ingin melihatnya sekali saja. Meskipun setelah aku melihatnya itu pulalah akhir hidupku. Yang penting aku sudah melihatnya.
Mereka berdua terlihat memikirkan sesuatu lalu berkata
“Baiklah… kau boleh melakukan apa yang kau inginkan. Tapi waktumu tak lama. Hanya 30 menit.”
Suara mereka masih dingin. Entah aura macam apa yang mereka miliki.
Aku tak perduli pada mereka. Yang penting aku bisa melihat Eun Hye. Semoga dia bisa menangkap maksudku. Aku hanya bisa berharap dia akan datang kesini dan menemuiku.
Aku akan menunggunya…

Waktuku hampir habis. Tapi, Eun Hye belum juga datang. Apakah dia tak bisa menyimpulkan pesanku? Namun, ternyata Tuhan masih berpihak padaku. aku melihatnya. Aku melihatnya. Rambutnya… Wajahnya… Senyumnya… Akhirnya kerinduanku terbalas.
“Dasar Eun Hye bodoh!”
Kulihat dia akan menghampiriku. Tidak! Dia tidak boleh menghampiriku! Bagaimana kalau dia menyadari keberadaan dua orang berbaju hitam ini? Kuulaskan senyum terbaikku padanya. Aku mengangkat tanganku sebagai tanda agar dia mmenunggu saja disana.
aku menyeberang. Tanpa memedulikan jalan . toh aku tak akan kenapa-kenapa. Ketika aku melangkah aku tak menyadari ada sebuah mobil yang sedang melaju kencang. Berbarengan dengan itu aku mendengar kedua pria berbaju hitam itu bergumam kepoadaku
“Waktumu sudah habis”
Mereka membawaku ke atas. Aku mendengar Eun Hye berteriak.
“YU JIIIIN AWAAAAASSSS!!!!”
Hatiku pedih. Sakit. Hancur. Rasanya seperti disayat-sayat menjadi tak beraturan. Hanya sedikit lagi aku bisa melihatnya… sedikit lagi! Tak terasa pipiku basah lagi. Ingin aku mengucapkan selamat tinggal padanya. Tapi aku tak bisa. Aku hanya terus memandangnya. Aku hanya bisa memandangnya.
Kulihat dia kebingungan karena melihat aku tak lagi disana.
“Maafkan aku Eun Hye… Maafkan aku. Semoga kau bahagia. Semoga kau berhasil dengan impianmu. Jangan lupakan kenangan kita… “
Berbarengan dengan tetesan airmataku yang terakhir aku mendengar suara ambulans.

Aku mencintaimu Eun Hye. Selamanya…..

Trapped In a Dream

Chapter I

 

“Ratuku… Ramalan itu semakin dekat. Kita harus segera menemukan anak terpilih itu atau dunia ini akan berakhir Ratuku. Kita harus segera bergerak.”

Wajahnya gelisah saat Clay, salah satu tetua Kerajaan Mimpi, Dreamland mengingatkan sang ratu akan bahaya yang menghantui negeri ini sejak berabad-abad silam.

Sang Ratu, Selena terlihat tenang. Kulitnya pucat sewarna bulan. Matanya yang berwarna hijau zamrud itu menatap Clay dengan hati – hati. Kemudian, ia berdiri, melayang. Tubuhnya tidak terlalu tinggi. Kepalanya bermahkotakan tiara yang cantik. Terbuat dari debu berlian dan batu ruby terbaik di Dreamland. Mahkotanya berpijar bagaikan bintang di waktu malam, menyilaukan setiap mata yang melihat. Kemudian ia tersenyum. Senyumnya membentuk bulan separuh yang sempurna. Cantik.

“Aku mengerti kakek. Jangan khawatir aku sudah mempertimbangkan segalanya. Aku tahu waktunya sudah dekat. Kita akan segera menemukan anak itu. Dengan cara apapun kita harus menemukannya lebih dulu. Sebelum Dia Yang Sudah Terasing menemukannya.” jawabnya lembut. Apa yang dikatakan oleh Sang Ratu, Selena membuat keadaan menjadi sedikit lebih tenang. Wajah – wajah gelisah yang tadi menyelimuti para tetua Dreamland digantikan oleh perasaan lega. Sedikit lega, karena apa yang diucapkan ratunya  selalu merupakan titah yang cepat atau lambat akan menjadi kenyataan, dan mereka tahu betul jika ratunya berkata akan melakukan segala cara, itu berarti ia akan melakukan segala cara yang ia bisa.

“Kirim Cupid ke dunia bawah sekarang kakek. Tugaskan ia untuk membawa anak itu kemari dengan cara apapun, Segera setelah ia menemukannya temui aku. Ada beberapa hal yang harus aku bereskan terlebih dahulu. Aku pergi kakek. Jangan cemaskan aku.”

Sosoknya memudar menjadi cahaya saptawarna yang indah. Bahkan ketika sosoknya berwujud cahaya seperti itu ia tetap terlihat anggun. Cantik. Mempesona.

 

Segera setelah Ratu Selena meninggalkan singgasana, Clay memanggil Cupid dan memberinya misi persis seperi apa yang dititahkan Sang Ratu.

 

————————————————————————————————–

“Dimana aku harus mulai mencari anak itu? Satu – satunya ciri – ciri yang dikatakan oleh kakek hanyalah ia seorang pria. Petunjuk macam apa itu? Ini sama saja dengan mencari jarum ditumpukkan jerami! Pria seperti apa yang harus aku temukan? Dasar kakek sialan! Seenaknya saja memberi tugas dengan petunjuk yang minim seperti ini! Kalau saja ini bukan titah langsung dari Ratu Selena yang sangat aku hormati, akan kutolak mentah – mentah tugas ini!” Cupid, makhluk yang dikirim Ratu Selena untuk mencari anak terpilih dalam ramalan mengomel tanpa henti. Ia sudah mengelilingi dunia bawah sebanyak tiga putaran namun belum bisa menemukan anak itu.

“Aura anak itu berbeda Cupid. Aku yakin kau akan segera merasakannya bahkan saat pertama kali kau bertemu dengannya. Ia memiliki ikatan yang kuat dengan Dreamland. Kau harus menemukannya secepat yang kau bisa.” Cupid teringat satu lagi pesan Clay yang tadi sempat ia lupakan karena terlalu banyak mengomel.

“Aura ya? Dasar kakek tua! Jadi ini alasan kenapa kau memilihku? Karena aku bisa membaca aura? Pilihan yang pintar kakek, aku tidak akan mengecewakanmu. Aku akan segera membawa dia menemui ratu kita. Aku janji.” Cupid tersenyum mengejek. Muncul semangat baru dalam dirinya. Keyakinannya tumbuh. Ia yakin ia akan menemukan anak itu tak lama lagi. Tak lama setelah itu ia mengaktifkan kemampuan membaca auranya dan kembali terbang mengelilingi dunia bawah. Bedanya, kali ini ia melakukannya sambil tersenyum bukan mengomel.

“Hey, Yuga!” Sosok yang dipanggil itu pun menoleh. Menatap tajam sumber suara. Perawakan Yuga kurus tinggi. Dagunya lancip. Kulitnya coklat keemasan, hasil dari kebanyakan berjemur di pantai. Rambutnya sewarna tembaga dibiarkan panjang berantakan. Matanya bulat sewarna lautan. Menyimpan banyak rahasia di dalamnya. Ada bekas luka sayatan kecil di pipinya, hasil dari trauma masa lalu. Gaya berpakaiannya cuek, cukup dengan memakai kemeja santai dipadu dengan jeans belel dan sepasang sneakers merah. Tipikal anak muda introvert yang bermasalah.

Yuga langsung menampilkan ekspresi tidak enak dari wajahnya ketika tahu siapa yang memanggilnya.

“Ada apa Sean?” ada nada tidak senang dalam suaranya.

Sean, ketua himpunan mahasiswa kampus yang juga merangkap sebagai sahabat terbaiknya sudah sangat mengenal ekspresinya yang masam dan nada suaranya yang ogah – ogahan itu. Yuga memang selalu seperti itu sejak pertama kali Sean mengenalnya.

“Dekan kembali memanggilmu. Kali ini dengan surat peringatan. Kenapa sih kau sering sekali membolos? Rekor bolosmu bahkan sudah diluar akal sehat! Masuk kelas dua kali dan selebihnya membolos? Mahasiswa macam apa itu? kau terancam drop out. Aku harap kau bisa memperbaiki sikapmu. Aku sahabatmu dan aku peduli padamu. Jangan sia – siakan apa yang telah kau capai sejauh ini. Pikirkan itu.”  Sean sengaja menekankan setiap kata yang ia ucapkan, dengan harapan semoga ia mau mendengar. Tapi tentu saja ia tahu bahwa kemungkinan besar reaksi Yuga akan berlawanan dengan yang ia harapkan.

“Terimakasih atas perhatianmu pak ketua. Ini hidupku. Aku yang memutuskannya, oke? Sepertinya aku sudah tidak cocok lagi berada di kampus ini. Disini banyak orang – orang yang tidak jujur. Kau tahu sendiri bagaimana pandanganku akan orang – orang seperti itu. Tak usah kau cemaskan aku karena masalah drop out itu. Aku akan mengundurkan diri. Secepatnya. Ibuku juga mengerti minatku bukan disini. Ia sudah mengijinkan. Sekarang biarkan aku pergi mencari ketenanganku sendiri. Aku mau tidur. Capek.” Yuga melangkahkan kakinya dengan cepat menghindari tatapan Sean yang terlihat terpukul karena dari kampus sialan ini dan mengejar mimpinya yang lain. Mimpi dalam artian harfiah. Mimpi yang akan mengubahnya menjadi pribadi yang berbeda. Mimpi yang akan membawa perubahan besar dalam hidupnya. Mimpi yang sudah berakar dalam dirinya. Mimpi yang ditakdirkan untuknya, bahkan sebelum ia lahir.

Yuga langsung merebahkan dirinya begitu ia sampai di kamarnya yang khas cowok : berantakan, baju tercecer dimana – mana, dan bau rokok. Ia merenungkan kembali mimpinya semalam. Mimpi yang sama seperti mimpi – mimpi malam sebelumnya yang menghantuinya seminggu belakangan ini. Khusus untuk tadi malam mimpinya terasa sangat jelas sekali. Ia bisa mengingat detail- detailnya. Di dalam mimpinya ia bertemu dengan seorang wanita yang cantik. Bahkan cantiknya melebihi kecantikan Ratu Cleopatra, Ratu Mesir yang akhirnya mati ditangan Kerajaan Romawi yang Yuga kagumi. Wanita itu pucat namun menawan. Rambut putihnya tergerai bergelombang. Pakaiannya kuno, modelnya seperti pakaian kebesaran Kerajaan Inggris namun tak persis seperti itu. Ada hal – hal yang terasa ganjil disana, seperti bukan berasal dari dunia ini. Aneh.

Wanita itu kemudian mendekati Yuga. Membisikkan kata yang sama ke telinganya. “Kau harus datang menemuiku. Aku butuh bantuanmu. Tolong aku anak muda.” Kemudian wanita itu tersenyum. Senyum yang sama seperti yang ia lihat seminggu terakhir ini dalam mimpinya. Senyum bulan setengah yang tak bisa Yuga lupakan. Itu benar – benar senyum terindah yang pernah ia saksikan sepanjang hidupnya. Tapi kali ini ia merasakan ada sesuatu yang berbeda dari wanita itu. Senyumnya kali ini terasa berbeda. Ia merasakan wanita itu benar – benar dalam bahaya. Terancam. Muncul perasaan aneh dalam dirinya. Ia merasa harus menolong wanita itu, menyelamatkannya dari bahaya apapun yang terjadi. Tak lama setelah itu, wanita itu menghilang. Meninggalkannya lagi dengan beribu tanda tanya dalam benaknya seperti seminggu yang lalu.

“Akhirnya aku menemukanmu manusia bodoh.” Suara melengking Cupid menyadarkan Yuga dari lamunannya.

“Siapa itu? Jangan main – main denganku anak kecil! Atau kau akan tahu akbatnya!” Dibalik kemarahan yang ia tunjukkan terselip rasa takut dalm suaranya.

“Kau jangan khawatir bodoh, aku tidak tertarik bermain – main denganmu. Simpan saja ancaman kosongmu untuk orang lain. Kau tidak akan menang melawanku seberapa keraspun kau mencoba.” Cupid kemudian tertawa. Jangan tanyakan bagaimana cara ia tertawa. Menyeramkan.

“Tunjukkan wujudmu! Aku tidak takut melawanmu! Paling kau cuma orang iseng yang enggak punya kerjaan!” Yuga berteriak namun tangannya tak sanggup menyembunyikan rasa takutnya. Kedua tangannya bergetar. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.

Cupid lagi – lagi tertawa mendengar ocehan Yuga. “Cih! Kita lihat kau bisa apa anak muda sok berani! Jangan kaget. Aku akan perlihatkan wujudku kepadamu. Jangan biarkan matamu berkedip atau kau akan menyesal.”

Perlahan tapi pasti sosok Cupid mulai kasat mata. Sosok bayi mungil bersayap terbang tepat didepan wajah Yuga. Kulitnya seputih porselen, Menawan. Namun wajahnya seperti ogre. Taringnya mencuat keluar. Sayapnya putih sehalus bulu angsa, namun kuku kaki serta tangannya setajam kuku elang. Sungguh kombinasi yang aneh tapi nyata. Tubuh bayinya yang mungil hanya membuat itu semua menjadi sedikit tidak menakutkan.

“Demi tuhan! Makhluk apa kau ini? Ada urusan apa kau denganku? Pergi kau dari sini! Pergi!” Mulut Yuga berkomat – kamit membaca segala doa – doa pengusir setan yang ia ketahui, namun hasilnya nol. Cupid masih terdiam disana. Melayang tepat didepan wajahnya.

“Percuma anak bodoh! Kau tak bisa mengusirku dengan mantra murahan seperti itu. Aku ini kuat, kau tahu? Aku takkan bisa dikalahkan oleh makhluk sepertimu. Apa nama spesiesmu? Manusia? Oh, bukan tapi makhluk lemah!” Cupid kembali mengumandangkan tawanya yang menyeramkan tadi.

Pertahanan yang dibangun Yuga runtuh sudah. Rasa takut yang sedari tadi disembunyikan dengan sekuat tenaga kini terlihat jelas di matanya. Getaran di kaki dan tangannya kini menjalar keseluruh tubuhnya. Jantungnya berdetak cepat. Keringat dingin semakin deras. Ia terduduk lemas di tempat tidurnya, tak tahu lagi apa yang bisa ia lakukan. Pasrah.

“Mau apa kau kesini makhluk aneh? Mau mencabut nyawaku? Atau haruskah kau kusebut malaikat pencabut nyawa? Kudengar malaikat punya sayap, dan kelihatannya kau punya. Tapi aku tak menyangka ternyata malaikat pencabut nyawa punya wajah monster jelek bau seperti kau! Lihat taring serta kukumu! Apakah kau tak pernah memotongnya? Jorok sekali!” Yuga kembali mengoceh sambil mengumpulkan sisa – sisa keberanian yang ia punya.

“Diam kau makhluk rendah! Tugasku disini bukan untuk mencabut nyawamu, meskipun sebetulnya aku sangat ingin dan bisa saja melakukan itu sekarang juga kalau aku mau! Tugasku hanyalah membawwa kau ke duniaku.”        “Apa? Membawaku ke duniamu? Dunia apa? Dunia kematian? Tidak mau! Aku belum waktunya mati! Aku tidak mau mati ditanganmu malaikat buruk rupa!” Nafas Yuga menderu semakin cepat. Ia hanya berharap omong besarnya ini bisa membuat Cupid merasakan sedikit rasa takut dan terancam yang sejak tadi sudah ia rasakan.

“Kau… Benar – benar cari mati rupanya anak muda keras kepala! Akan kubuat kau menyesal telah memancing kemarahanku!” Cupid menyilangkan dua tangannya membentuk huruf x lalu ia mengucapkan sebuah mantra yang Yuga tak mengerti. Tak lama kemudian kamar Yuga mulai bergetar. Barang – barang di kanmarnya mulai bergoyang hilang keseimbangan. Satu – persatu barangnya jatuh ke lantai. Retakan – retakan mulai terlihat di dinding kamarnya. Lantainya terbelah dua. Menghasilkan bunyi krak yang sanggup membuat bulu kuduk merinding. Batu – batu kecil hasil dari retakan itu mulai berjatuhan. Debu berterbangan, membuat Yuga sulit bernapas.  Ia pucat pasi hampir kehabisan napas. Cupid tersenyum mengejek.

“Mana keberanianmu yang tadi anak muda? Itukah batas keberanianmu? Dasar omong besar! Jangan macam – macam denganku atau kau akan benar – benar mati tertimbun reruntuhan kamarmu sendiri!” Kemudian Cupid kembali menyilangkan kedua tangannya menyerupai huruf x lalu mulai membaca mantra. Kali ini mantranya terdengar agak berbeda tetapi Yuga tetap tak bisa mengerti apa yang ia rapalkan. Begitu Cupid selesai membaca mantra, kondisi kamar Yuga berangsur – angsur kembali ke keadaanya semula. Barang – barang yang tadi jatuh melayang – layang kembali ke tempatnya semula. Retakan – retakan di dinding kamarnya telah menutup dengan sendirinya. Lantai kamarnya pun telah kembali menyatu. Debu serta batu – batu tadi telah hilang tersapu angin yang tiba – tiba datang dari jendela kamarnya. Getarannya  sudah sepenunya hilang.

Meskipun rasa takut masih mendominasi dirinya, tapi ada rasa takjub terlihat di matanya. Ini adalah kali pertama ia melihat barang – barang melayang seperti itu. Hari ini sungguh ajaib. Sesosok malaikat buruk rupa mendatangi dirinya, hampir mati karena gempa, mimpi yang sama setiap malam. Yuga mulai berpikir mungkin semua ini berhubungan satu sama lain. Ini adalah petunjuk yang selama ini ia nantikan. Ia memutuskan untuk memperjelas semuanya. Satu – satunya jalan adalah dengan bertanya kepada si malaikat buruk rupa yang hampir menghancurkan kamarnya ini. Tidak ada cara lain.

“Hei malaikat monster! Boleh aku tahu namamu? Malaikat punya nama kan? Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu. Kita berdamai saja, oke?” Yuga sedikit melunakkan suaranya, mencoba berdamai dengan Cupid.

“Jangan panggil aku dengan sebutan jelek seperti itu. Namaku Cupid. Aku dikirim oleh Selena, ratu kami, untuk menjemputmu pergi ke dunia kami. Akan kutunjukkan jalannya, hanya itu tugasku. Apa yang ingin kau tahu?” Cupid kini sudah mulai tenang. Hanya sedikit jengkel karena Yuga masih memanggilnya dengan sebutan jelek seperti tadi.

“Apa? Ratu? Kau memiliki seorang Ratu?” Apakah ratunya ini wanita yang sama dengan wanita yang selalu hadir di mimpiku akhir – akhir ini?

            Benak Yuga kembali memikirkan wanita yang selalu hadir di mimpinya seminggu belakangan.

‘Jangan bercanda. Aku bisa mendengar apa yang kau katakan dalam hatimu. Mana mungkin Ratuku sudi menemui makhluk rendahan sepertimu? Mereka wanita yang berbeda. Aku yakin itu. “ Cupid kembali mengeluarkan nada mencibirnya yang menyebalkan.

“Hei jangan seenaknya baca pikiran orang dong! Kau melanggar privasiku sebagai manusia tahu! Aku kan hanya mengira – ngira siapa tahu mereka memang wanita yang sama. Jangan pernah sekali – kali kau masuk dan coba – coba mendengar lagi apa yang sedang kupikirkan atau aku akan melaporkanmu pada Ratumu yang kau pujua itu bahwa kau mencoba membunuhku tadi! Mengerti?” Raut wajah Cupid berubah. Ada ketakutan disana.

Akhirnya aku tahu apa kelemahanmu malaikat tolol. Yuga tertawa dalam hati, senang karena akhirnya ia bisa membalas apa yang telah dilakukan Cupid padanya.

“Aku mendengarnya bodoh! Jangan tertawa dan jangan terlalu senang! Aku tidak semudah itu kau kalahkan!” Lagi – lagi Cupid mendengar apa yang Yuga pikirkan.

“Diam atau kau benar – benar akan kulaporkan nanti! Berjanjilah ini yang terakhir kalinya kau menyusup dan mencuri dengar apa yang aku pikirkan!” Ekspresi kemenangan terlihat jelas di wajahnya. Mau tak mau Cupid harus menuruti apa maunya agar ia tak mendapatkan masalah.

“Baik aku berjanji.”

 

—————————————————————————————————

 

“Tuanku, Mebius sepertinya utusan adik kembarmu, Selena telah berhasil menemukan anak itu. Apa artinya ini Tuanku? Apa yang harus kita lakukan?” Wajah dingin kakek tua itu sedikit berkerut, menambah kerutan – kerutan yang telah ada diwajahnya. Penasehat kerajaan mimpi, Dreamland –di sisi lain- itu terlihat was – was takut terjadi hal yang tidak diinginkan terjadi pada kerajaan. Sementara itu, Mebius terlihat sedang berpikir keras.

Wajah Mebius tak kalah pucatnya dengan Selena. Warna matanya kuning emas. Sayu. Sebenarnya, mata Mebius dapat memancarkan rasa damai melalui tatapannya. Namun, ia sudah banyak menyimpan kebencian dalam dirinya hingga membuat tatapan itu berubah menjadi tatapan penuh kebencian  dan dendam. Tubuhnya menjulang tinggi. Rambutnya sewarna perak. Modelnya dibiarkan berantakan tapi sesuai dengan air mukanya yang menyeramkan. Menguatkan kesan itu bagi yang bertemu dengannya. Wajahnya tampan tapi menyimpan aura yang kelam. Banyak bekas luka ditubuhnya. Itu adalah tanda perjuangannya mempertahankan kekuasaan miliknya sampai saat ini.

Mebius mulai angkat bicara. “Kau jangan khawatir kakek tua! Aku sudah punya rencana. Kita akan menghalangi anak itu datang ke Dreamland dengan segala cara. Aku tidak akan membiarkan anak yang ada dalam ramalan itu menyelamatkan Dreamland dan kemudian menjadi penguasa tunggal. Akulah penguasa Dreamland, Hanya aku satu – satunya Sang Penguasa! Satu lagi kakek tua, aku sudah tak punya adik. Adik kembarku yang kusayangi sudah lama mati dimataku. Selena yang sekarang hanyalah pengganggu yang harus disingkirkan karena mengancam kekuasaanku yang mutlak. Jaga bicaramu!” Mebius terlihat geram. Meskipun jauh di lubuk hatinya ia tahu Selena akan selalu hidup selama ia juga hidup di dunia ini.

“Maafkan aku Tuanku Mebius yang Agung. Aku tidak bermaksud seperti itu. Maafkan mulutku yang tak tahu diuntung ini. Anda bisa memotong lidahku kalau anda mau Tuanku.” Rasa takut jelas terpancar dari wajah sang penasehat kerajaan. ia tahu Mebius pasti akan menjadi lebih sensitif jika sudah menyangkut dengan adiknya, Selena.

“Jadi apa yang akan kita lakukan Tuanku?” Sang penasehat kerajaan kembali melanjutkan maksud perkataannya.

“Serahkan saja semuanya padaku kakek tua. Urusi saja apa yang sudah seharusnya kau urus. Aku punya caraku sendiri mengatasi hal ini. Jika perlu aku akan turun langsung menghadapi anak itu. Otot – ototku juga sudah pegal lama tidak digerakkan. Tubuhku menjadi kaku duduk saja di kursi ini.” Mebius tersenyum membayangkan apa yang terjadi seandainya ia benar – benar turun ke dunia bawah dan menghadapi langsung anak dalam ramalan itu. Tapi permainan ini pasti akan membosankan jiak dimainkan seperti itu. Mebius suka permainan, dan ia akan memainkannya dengan cara yang cerdik tidak terburu – buru.

“Tapi Tuanku, jika anda pergi ke dunia bawah maka keselamatan kerajaan akan terancam. Tolong pikirkan lagi lebih bijaksana Tuanku, jangan bertindak gegabah.” Sang Penasehat berkata sambil bersimpuh, tak berani menatap langsung Mebius.

“Aku hanya bercanda kakek. Keselamatan kerajaan adalah prioritas utamaku. Aku akan pergi sebentar. Bukan ke dunia bawah tentu saja, Kau urusi dulu urusan kerajaan selagi aku tak ada. Aku percaya padamu.”

“Baik Tuanku, percayakan semuanya padaku.”

Sosok Mebius memudar menjadi cahaya. Berbeda dengan Selena yang memudar menjadi cahaya saptawarna yang indah, cahaya Mebius terlihat lebih kelam dan gelap. Warna cahanya dominan hitam keunguan. ada warna biru disana meskipun hanya terlihat sepintas saja. Mebius mulai melakukan usahanya untuk mencegah Yuga masuk ke Dreamland. Diluar sana Yuga tidak tahu kekuatan jahat apa yang sudah menunggunya disini. Mebius sudah menyaipkan kejutan yang manis untuk Yuga, si anak dalam ramalan, di sini, di pintu masuk Dreamland.

 

———————————————————————————————–

 

“Jadi siapa namamu, manusia? Sejak tadi kita bicara, ngomong – ngomong aku belu tahu sama sekali identitasmu.” Kali ini mereka mengobrol santai.sambil tiduran di kasur. Hanya Yuga yng tidur, sementara Cupid masih asyik terbang mengelilingi kamar Yuga.

“Namaku Yuga Busterhold. Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Aku tinggal bersama ibuku dan kedua adikku. Jangan pernah kau coba untuk ganggu mereka. Mereka adalah hal yang paling berharga dalam hidupku. Mengerti?” Yuga bangkit dari tidurnya kemudian menyalakan laptop di meja belajarnya. Menonton sesuatu.

“Tenang saja aku tidak akan mengganggu apa yang bukan urusanku. Tidak usah galak begitu, aku mengerti. Apa yang sedang kautonton itu, Yuga?” Cupid terbang mendekati Yuga, penasaran akan apa yang sedang Yuga lihat.

“Ini film Supernatural, kau tahu? Ceritanya tentang dua saudara kandung yang memburu makhluk supranatural, seperti kau!’ Kemudian Yuga tertawa. Lepas sekali. Hari ini merupakan kali pertama baginya tertawa selepas itu sejak… Sekian lama.

“Apa maksudmu mereka memburu makhluk sepertiku? Mereka membunuh? Pakai apa? Yang benar saja!” Cupid terlihat tak bisa menerima kenyataan kalau ada manusia di Dunia Bawah yang bisa mengalahkannya. Padahal ini hanyalah sebuah film.

“Ya, mereka berdua memburu makhluk – makhluk tak kasat mata sepertimu, dan mereka benar – benar membunuhnya. Kau harusnya takut pada Winchester bersaudara ini. Aku yakin pasti mereka mampu mengalahkanmu. Mereka punya banyak benda – benda kuno untuk membunuh makhluk immortal, kurasa kau takkan mampu mengalahkan kekuatan super mereka.” Yuga tertawa.

Kurasa malaikat bodoh ini menelan bulat – bulat ceritaku. Padahal ini kan hanya sebuah film. Ini tidak nyata. Biarin aja deh. Biar Cupid merasakan ketakutan yang kurasakan sejak tadi meskipun hanya sedikit.

            “Cih! Sebelum mereka berdua membunuhku akan kupastikan mereka telah  mati lebih dulu! Akan kuhanguskan tubuh mereka sampai tak ada yang mengenali. Lalu, aku buang mayat mereka ke laut supaya tidak ada yang menemukan mereka.”Cupid terlihat sangat bernafsu ingin membunuh mereka. Ini tidak bagus. Akhirnya Yuga memutuskan untuk memberitahu kebenarannya pada Cupid, si malaikat yang ternyata besar otaknya hanya sebesar otak udang. Mudah sekali dibohongi.

“Hey jangan marah begitu. Ini hanya film, oke? Ini tidak nyata. Dibayar dengan uang, untuk hidup mereka. dan yang paling penting aku sangat suka film seri ini! Bagaimana mungkin aku bisa menonton kelanjutan film ini kalau kau bunuh dua aktor utamanya? Aku mohon, jangan kau lakukan itu, oke?”

Setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari Yuga barusan, Cupid terlihat lebih mengerti dan mengangguk – anggukan kepalanya dengan takzim.

“Hmm… Jadi ini tidak nyata kan? Berararti artinya mereka tidak bisa membunuhku kan? bahkan sebenarnya melihat wujudku pun mereka tidak bisa kan? Sudah kuduga! Manusia itu memang makhluk lemah! Haha.” Cupid tertawa. Kali ini tawanya terdengar seperti nyanyian.Kesenangan akan fakta ini membuatnya lupa diri.Kemudian, ia mulai mengoceh tentang kehebatan kaumnya di Dreamland.

“Baiklah terserah kau saja.” Yuga sama sekali tak tertarik mendengar ocehan Cupid tentang superioritas kaumnya di Dreamland.

“Jadi, kau bilang aku harus pergi ke duniamu kan? Bagaimana caranya? Apakah aku akan terbang bersamamu? Atau perpindahan tempat sekejap mata seperti dalam film Dragon Ball? Atau mungkin menggunakan ilmu sihir seperti dalam Harry Potter? Bagaimana? Bagaimana caranya? Beritahu aku!” Cupid melihat binar semangat terpancar di mata Yuga. Kemudian Cupid tersenyum. Wajah ogrenya terlihat lebih manis jika ia tersenyum seperti itu.

“Sebelum kau tahu bagaimana caranya, lebih bijaksana kalau aku menjelaskan lebih dahulu apa dan bagaimana kau hidup di duniaku nanti. Memangnya kau sudah tahu mau dibawa kemana olehku? Seingatku aku belum mengatakan hal itu padamu.” Yuga merenungkan perkataan Cupid barusan.

“Benar juga, kau belum mengatakan akan membawaku kemana! Baiklah kalau begitu, ceritakan dulu tentang duniamu sedetail yang kau mampu, Sekarang.”

Kemudian, Cupid terbang lebih rendah dan mendarat di depan Yuga. Ia duduk dan mulai menjelaskan tentang dunianya kepada Yuga.

“Aku tidak bisa menjelaskan panjang lebar padamu. Iru bukan wewenangku. Nanti ketika kau sudah bertemu dengan Ratu Selena, ratu pemimpin negeri kami, kau pasti akan diberitahu olehnya. Aku hanya akan menjelaskan poin – poin pentingnya saja. Pertama, negeri kami disebut dengan Dreamland, atau Negeri Mimpi. Kami tercipta dari mimpi – mimpi yang diciptakan oleh ratu kami, Selena. Ratu kami adalah pencipta mimpi. Dialah yang menganugerahimu mimpi – mimpi indah disetiap waktu tidurmu. Kau harus menghormatinya. Disana nanti, kau tidak memerlukan makan atau minum karena metabolisme tubuhmu berhenti bekerja. Tapi, kau tetap butuh tidur untuk mengembalikan staminamu. Oh, aku hampir saja melupakan ini, jika kau tidur di dunia kami itu artinya kau kembali ke duniamu. Satu hal lagi, selain Ratuku, Selena, ada satu lagi penguasa di Dreamland, namanya Mebius –Sang Penguasa Mimpi Buruk Sekaligus Saudara Kembar Selena-. Dia sangat jahat. Hati – hati dengannya. Jangan pernah termakan omongannya. Ia paling suka menghasut dan mencuci otak orang – orang yang dianggap mengancam kekuasaannya. Kau harus benar – benar yakin akan apa yang kau lakukan. Tugasmu akan disampaikan oleh Ratu Selena saat kau tiba disana nanti. Ngomong – ngomong tentang cara agar kau bisa kesana, caranya cukup mudah. Kau tinggal tidur. Lalu, aku akan menyetel frekuensi otakmu agar menjadi sama dengan frekuensi dunia kami. Mudah kan?” Yuga menyimak dengan baik segala apa yang dikatakan oleh Cupid kepadanya. Bahkan matanya sama sekali tak berkedipkarena terlalu berkonsentrasi.

“Tunggu dulu, kau bilang aku cukup tertidur saja, tapi apa tadi kau bilang? Kau akan mengeset frekuensi otakku? Bagaimana itu akan dilakukan? Apakah dengan membedah isi kepalaku? Aku tidak mau pergi jika memang begitu caranya! Aku bersumpah demi nama ibuku!”

“Tentu saja bukan begitu caranya. Aku hanya akan merapalkan beberapa mantra selagi kau tidur. Hanya itu. Rileks, bahkan kau tidak akan merasakan apapun saat prosesnya terjadi.” Saat mendengar itu, Yuga menarik nafas lega. Lega karena ia tak perlu mengalami peristiwa horor pembedahan otak yang waktu itu ia lihat di salah satu episode film Supernatural faforitnya.

“Baiklah kalau begitu. Sekarang masalahnya adalah, aku bukanlah orang yang mudah untuk tertidur. Kau tahu cara yang paling efektif untuk cepat ngantuk tidak?” Mendengar pertanyaan seperti itu, Cupid tersenyum kembali. Lengkingan suaranya kali ini terdengar sangat menggoda.

“Oh tentu saja. Aku akan memberikanmu tips supaya kau bisa cepat tertidur, terima ini \bodoh!” Kemudian Cupid memukul wajah Yuga, tidak terlalu keras tapi itu cukup membuat Yuga pusing.dan kemudian tak sadarkan diri. Cupid tertawa  senang.

“Apa kubilang? Cara ini cepat kan membuatmu tertidur? Berterimakasihlah padaku saat kau bangun nanti.”

Kemudian Cupid mulai merapalkan mantra – mantranya. Tidak ada hal aneh ynag terjadi. Tak ada yang berubah dari dirinya. Yuga masih utuh. Masih sama seperti sebelum ia jatuh pingsan tadi. Hal yang berbeda hanyalah, kini Yuga sudah tak berada di dunianya lagi. Ia sudah sampai di pintu gerbang Dreamland, bersama Cupid disampingnya.

Apa yang kalian tahu tentang mimpi? Bunga tidur? Hiasan Malam? Atau bahkan mengandung suatu pesan?

 

Pesan Kematian….

Suatu pesan yang mungkin akan membawamu kedalam bahaya yang tak pernah kau pikirkan sebelumnya!

Pesan yang membuat kau mempertaruhkan nyawamu untuk itu.

 

Pesan SOS…

Pesan minta tolong yang dikirimkan makhluk imortal lewat mimpi – mimpi… Mecoba untuk berkomunikasi dengan dunia manusia… Mereka yang memerlukan bantuan akan terus mendatangi mimpi – mimpimu.

 

Dan membawamu kedunia mereka. Ya. Dunia Mimpi. Dreamland.

 

Dunia ini tidak seperti yang kau kira. Jangan pikirkan fantasi – fantasi yang melenakan seperti yang kau temukan dalam film – film kartun. Jangan bayangkan makhluk – makhluk berwajah lucu akan menyambutmu ketika kau pertama kali sampai disini. Ini bukan Disneyland. Ini bukan Fairy Tale. Ini adalah Dreamland. Tempat dimana mimpi – mimpi dibentuk oleh Dua Penguasa. Tempat dimana mimpi – mimpi terbaik manusia bergelut dengan mimpi – mimpi buruk yang paling ditakuti manusia. Mimpi yang terasa seperti Kenyataan… Yang membuatmu terbang sampai Firdaus sekaligus terjembab ke Neraka secara bersamaan.

 

 

Yuga Busterhold , Marylin Van Boston, dan Grandpa Posner

 

 

Tiga sosok manusia biasa “diundang” masuk ke Dreamland karena sebuah Ramalan yang akan menyeret mereka menuju petualangan yang mempertaruhkan hidup mereka tidak hanya di Dreamland, tapi juga di dunia tempat mereka “hidup sepenuhnya”.

 

Yuga… Cowok urakan yang menurut Sang Ratu Mimpi, Selena, adalah kunci dari segala kedamaian di Dreamland, tapi justru dianggap sumber dari segala bencana oleh Sang Penguasa Mimpi Buruk, Mebius.

 

Mary… Cewek obsesif – impulsif.  Menyimpan sesuatu yang berbahaya dalam dirinya.

 

Grandpa Posner… Lelaki tua yang dihantui rasa bersalah bertahun – tahun karena kehilangan cucu yang sangat disayanginya.

 

Mereka berjuang, mengubah dunia sekaligus mengubah hidup mereka sendiri. Di sini, di Dreamland, mereka akan dipuja dan dihujat. Disayangi sekaligus dibenci. Selalu akan ada dua sisi yang jelas : Hitam ( Mebius ) dan Putih ( Selena)

 

Akankah mereka berhasil?????